Sabtu, 10 November 2018

Kunjungan museum tanah bogor

KUNJUNGAN MUSEUM TANAH BOGOR


Mau tau mengapa tanah air kita subur dan makmur? Dan tanaman apa saja yang  tumbuh di Indonesia, akan tumbuh dengan baik atau jika kamu ingin tahu jenis tanah apa saja yang terdapat di Indonesia dan kandungan apa yang membuat tanah ini subur, jawabannya museum tanah.

Museum ini menyimpan koleksi atau sampel berbagai jenis tanah di Indonesia. Di Museum ini menyimpan berbagaikan jenis tanah yang dikemas dalam bentuk ukuran kecil berupa makromanolit, berbagai jenis bebatuan, sampel pupuk, perangkat uji tanah, peta-peta, maket, dan lat survei tanah.



     
         Tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi yang tersusun dari bahan mineral sebagai hasil pelapukan bebatuan dan bahan organik sebagai hasil pelapukan sisa-sisa tanaman dan hewan, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat tertentu sebagai akibat pengaruh iklim, jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk.Semua makhluk di bumi ini sangat tergantung pada tanah. Oleh karena itu kita harus menjaga dan melestarikannya. Adapun perlunya menjaga dan meningkatkan produktivitas tanah disebabkan karena faktor-faktor yang dapat menurunkan tingkat produktivitas diantaranya adalah erosi yang terus-menerus dapat mengakibatkan terkikisnya lapisan tanah yang paling atas, bencana alam, sistem ladang berpindah, dan lain-lain. Karena dalam mempertahankan dan menjaga kesuburan serta kelestarian tanah itu tidak mudah, maka mulailah manusia mempelajari dan mengadakan penelitian tentang tanah. Kemudian dikenal adanya ilmu tanah.
             Keberadaan tanah di muka bumi ini sangatlah beragam. Keragaman tanah tersebut meliputi aspek morfologi tanah dan morfologi lahan. Dan untuk mengetahui susunan dari tanah di lapangan maka diadakan praktikum untuk membuat pedon atau profil tanah, sehingga kita dapat mengetahui lebih jelas mengenai horizon-horison tanah, dapat mengetahui sifat-sifat fisika tanah dan sifat-sifat kimia tanah. Dalam membuat profil atau pedon tanah harus memenuhi syarat-syarat, yaitu harus tegak, masih baru atau belum terpengaruh oleh faktor-faktor luar dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sifat-sifat fisika tanah diantaranya adalah tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah, dan warna tanah. Sifat kimia tanah meliputi reaksi tanah, kandungan kapur, kandungan bahan organik, konkrensi Mn, pH, serta aerasi dan drainase.
             Dengan mengetahui sifat fisika dan kimia tanah, maka kita dapat menyusun pola pengelolaan tanah pertanian sesuai dengan daerah dan sifat-sifat tanah tersebut. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mempelajari tanah dan seluk-beluknya baik dari segi sifat fisiknya maupun sifat kimianya. Dengan mengetahui keadaan tanah yang sebenarnya, kita akan lebih mudah dalam mengolah tanah sebagai lahan pertanian dan kita dapat melakukan tindakan yang benar terhadap tanah itu agar dapat bermanfaat semaksimal mungkin untuk kehidupan seluruh makluk hidup.

         
Contoh Ultisol di Museum Tanah Bogor yang berasal dari daerah Muarabungo, Jambi. Ultisol adalah jenis tanah yang ditemukan di daerah dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 8°C, yang banyak ditemukan di daerah lahan kering di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian jaya, yang belum dipergunakan untuk pertanian.

Kata "ultisol" berasal dari kata "ultimate" atau "akhir", karena ultisol dipandang sebagai produk akhir dari pelapukan mineral yang berlangsung secara terus menerus. Ultisol umumnya tidak mengandung bahan gamping, dengan kandungan mineral lapuk kurang dari 10% di lapisan atas tanah yang ekstrim dengan kejenuhan basa rendah.


  Anak prodi Agroekoteknologi 2017 _Univ.Trilogi_



TERIMAKASIH TELAH MEMBACA 😊😊
SEMOGA BERMANFAAT


Selasa, 30 Oktober 2018

Selamatkan varietas likal selamatkan indonesia

RESUMEN HASIL SEMINAR "SELAMATKAN VARIETAS LOKAL,SELAMATKAN INDONESIA"


Seminar bertema "Selamatkan Varietas Lokal, Selamatkan Indonesia" ini digelar di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (24/10/2018).


      Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Kerjasama Internasional, Dr.Ir.MatSyukur,MS,menyampaikan hingga saat ini berbagai upaya telah dilakukan dalam percepatan pendataan dan pendaftaran varietas lokal. Salah satunya adalah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, terutama dengan Dinas Pertanian dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian se-Indonesia.
        Posisi Indonesia di garis katulistiwa memiliki berbagai keuntungan sebagai negara tropis yang kaya akan sumber daya hayati yang berlimpah (Megabiodiversity). Kondisi ini menjadi daya tarik bagi berbagai pihak, terutama para peneliti asing. Dengan lebih dari 17.500 pulau, Indonesia memiliki koleksi beragam flora dan fauna, untuk tanaman obat saja ada sekitar 7.500 jenis, baik yang sudah dimanfaatkan ataupun belum. Bila kekayaan ini dapat dikembangkan secara optimal, akan menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Sampai saat ini belum semua sumber daya hayati ini dimanfaatkan dengan baik, dalam beberapa kasus karena ketidaktahuan ada beberapa sumberdaya hayati yang punah, dan juga karena minimnya konservasi genetik. Selain itu, teknologi pertanian yang tumbuh cepat kadang tidak diimbangi dengan upaya perlindungan terhadap plasma nutfah. Upaya perlindungan terhadap kekayaan sumber daya genetik (SDG) ini dapat diawali dengan dokumentasi dan pendataan yang baik. Selanjutnya ada beragam pendekatan dalam melakukan pelestarian, pemanfaatan, perlindungan biofisik (konservasi) serta perlindungan hukum. dalam pemanfaatan SDG. Saat ini masih sangat minim proses dokumentasi dan pendataan, selain itu proses ini dilakukan beragam lembaga secara parsial, sehingga upaya pembentukan database nasional mendesak untuk dilakukan.
       Kenapa varietas lokal penting? Karena varietas lokal selain merupakan identitas Indonesia, juga memegang peranan strategis dalam perakitan varietas unggul baru sekaligus upaya penyelamatan plasma nutfah yang ada. Upaya penyelamatan dan pengembangan varietas lokal dan plasma nutfah juga memerlukan EKOSISTEM yang sesuai dan dukungan masyarakat Lokal terutama terkait dengan Budaya dan Kearifan Lokal masyarakat setempat. Pemerintah Daerah bersama masyarakat membutuhkan upaya yang konkrit dalam merumuskan pola-pola pemanfaatan varietas lokal untuk melestarikandan memanfaatkan SDG yang ada.

Selamatkan varietas lokal, selamatkan indonesia!!! 

Selasa, 16 Oktober 2018

PENGENDALIAN ALTERNATIF HAMA SERANGGA SAYURANDENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAP KERTAS

Sayuran merupakan bahan pangan yang sangat dibutuhkan manusia karena mengandung serat dan sejumlah vitamin dan mineral. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sayuran banyak kendala yang dihadapi petani, salah satunya adalah gangguan hama serangga. Untuk mengendalikan hama serangga telah banyak pula cara yang dilakukan oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk menguji model perangkap serangga yang terbuat dari media kertas dan lampu warna. Warna yang dicobakan dalam penelitian ini terdiri dari merah, kuning, dan hijau. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan Juli sampai dengan Agustus 2016 di kebun percobaan Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMKPP), Kecamatan lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Objek penelitian adalah tanaman jagung. Metode penelitian menggunakan RCBD dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Variabel pengamatan populasi serangga yang terperangkap pada media kertas dan lampu warna. Hasil penelitian menujukkan tangkapan serangga tertinggi pada kertas dan lampu warna kuning, kemudian diikuti kertas dan lampu warna hijau dan merah. Serangga dapat hidup dalam sebuah ekosistem pertanian secara berkelanjutan,karena pada ekosistem ini serangga dapat memperolah makanan yang cukup. Ekosistem menurut Andrewartha dan Birch (1961) adalah sistem yang terbentuk oleh interaksi dinamik antara komponen-komponen abiotik dan biotik. Dengan demikian, maka ekosistem dapat dide-finisikan sebagai suatu kesatuan yang rumit dan interaktatif yang tersusun oleh semua organisme yang hidup pada suatu daerah dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tentang penjenjangan sistem kehidupan tersebut, maka untuk pengelolaan hama diperlukan analisis interaksi sistem sampai pada aras ekosistem (Kasumbogo, 1984). Penggunaan media kertas dan lampu warna merupakan suatu upaya pengendalian serangga hama secara alternatif. Ketertarikan serangga terhadap warna adalah salah satu cara adaptasi serangga di alam. Adaptasi ini dapat terjadi pada serangga dengan tujuan melindungi dirinya dari gangguan predator. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan jalan alternatif dalam pengelolaan serangga hama yang merusak sayuran dan diharapkan juga untuk menekan penggunaan insektisida kimia secara terus menerus. Penelitian ini untuk memperenalkan salah satu model alat perangkap serangga yang terbuat dari media kertas dan lampu warna untuk memberikan daya tariik secara fisik . Ketertarikan serangga terhadap warna dapat dijadikan acuan untuk usaha pengendalian, penggunaan perangkap kertas dan lampu berwarna merupakan salah satu cara untuk monitoring serangga di lapangan, sehingga memudahkan dalam melakukan identifikasi di laboratorium. Dari beberapa literatur menyebutkan bahwa ketertarikan serangga terhadap warna merupakan perilaku serangga di alam.pendekatan terhadap perilaku serangga dapat dijadikan acuan dasar penelitian. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memberi daya tarik serangga terhadap warna. Salah satunya adalah dengan memasang kertas warna-warni yang diberikan perekat. Warna media yang digunakan harus dapat memberi pantulancahaya atau adanya zat penarik(Sihombing et al., 2013).
Serangga sebagai hama tanaman perlu dikendalikan untuk tidak menimbulkan kerusakan yang berdampak pada turunnya produktivitas (Abdullah dan Rauf, 2011). Berbagai cara telah dilakukan untuk menurunkan tingkat kerusakan pada tanaman disebabkan serangga, seperti pengendalian secara mekanis, fisik, bercocok tanam, dan menggunakan agensia hayati (Debeach, 1979). Pengenendalian secara fisik adalah menggunakan gaya fisika, seperti perangkap mekanis, dengan menggunakan hormon dan zat pemikat(Braham, 2014). Salah satu pengendalian alternatif yang telah diujicobakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan media kertas warna dan lampu warna sebagai perangkap mekanik. Penggunaan perangkap mekanik dari bahan media kertas akan membantu petani dalam mengurangi gangguan hama serangga pada sayuran. Menurut hasil penelitian Thamrin dan Asikin (2003), dengan menggunakan plastik kuning efektif menarik lalat pemakan daun sebanyak 24 ekor rata-rata dalam seminggu. Pengujian perangkap warna dengan penambahan feromon sex dapat dilakukan untuk menjebak hama Tryporiza insartulas pada tamanan padi (Hendarsih dan Usyati, 1999).Penelitian ini akan memformulasikan dan menerapkan model alat perangkap yang terbuat dari media kertas dan lampu warna untuk memikat serangga yang merusak tanaman sayuran.